BAB I
PENDAHULUAN
KOROSI pada logam menimbulkan kerugian
tidak sedikit. Hasil riset yang berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat
memperkirakan, kerugian akibat korosi yang menyerang permesinan industri,
infrastruktur, sampai perangkat transportasi di negara adidaya itu mencapai 276
miliar dollar AS. Ini berarti 3,1 persen dari Gross Domestic Product (GDP)-nya.
sebenarnya, negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia paling banyak
menderita kerugian akibat korosi ini. tetapi, tidak ada data yang jelas di
negara-negara tersebut tentang jumlah kerugian setiap tahunnya.
Korosi yang dipengaruhi oleh mikroba
merupakan suatu inisiasi atau aktifitas korosi akibat aktifitas mikroba dan
proses korosi. Korosi pertama diindentifikasi hampir 100 jenis dan telah
dideskripsikan awal tahun 1934. bagaimanapun korosi yang disebabkan aktifitas
mikroba tidak dipandang serius saat degradasi pemakaian sistem industri modern
hingga pertengahan tahun1970- an. Ketika pengaruh serangan mikroba semakin
tinggi, sebagai contoh tangki air stainless steel dinding dalam terjadi
serangan korosi lubang yang luas pada permukaan sehingga para industriawan
menyadari serangan tersebut. Sehingga saat itu, korosi jenis ini merupakan
salah satu faktor pertimbangan pada instalasi pembangkit industri, industri
minyak dan gas, proses kimia, transportasi dan industri kertaspulp. Selama
tahun 1980 dan berlanjut hingga awal tahun 2000, fenomena tesebut dimasukkan
sebagai bahan perhatian dalam biaya operasi dan pemeriksaan sistem industri.
Dari fenomena tersebut, banyak institusi mempelajari dan memecahkan masalah ini
dengan penelitian-penelitian untuk mengurangi bahaya korosi tersebut.
Penulisan makalah ini ditujukan
sebagai bahan perhatian kembali kepada pelaku indutriawan, dosen dan pendidikan
secara khususnya dan orang- orang yang berkompeten terhadap bidang, kimia,
korosi dan ilmu pengetahuan alam pada umumnya, bagaimana bahayanya korosi
bakteri di lingkungan bebas baik air, udara dan tanah di sekitar kita.
Mikroba merupakan suatu mikrooranisme yang
hidup di lingkungan secara luas pada habitat-habitatnya dan membentuk koloni
yang pemukaanya kaya dengan air, nutrisi dan kondisi fisik yang memungkinkan
pertumbuhan mikroba terjadi pada rentang suhu yang panjang biasa ditemukan di
sistem air, kandungan nitrogen dan fosfor sedikit, konsentrat serta
nutrisi-nutrisi penunjang lainnya.
Mikroorganisme yang mempengaruhi
korosi antara lain bakteri, jamur, alga danprotozoa. Korosi ini bertanggung
jawab terhadap degradasi material di lingkungan. Pengaruh inisiasi atau laju
korosi di suatu area, mikroorganisme umumnya berhubungan dengan permukaan
korosi kemudian menempel pada permukaan logam dalam bentuk lapisan tipis atau
biodeposit. Lapisan film tipis atau biofilm. Pembentukan lapisan tipis saat 2 –
4 jam pencelupan sehingga membentuk lapisan ini terlihat hanya bintik-bintik
dibandingkan menyeluruh di permukaan.
Lapisan film berupa biodeposit
biasanya membentuk diameter beberapa centimeter di permukaan, namun terekspos
sedikit di permukaan sehingga dapat meyebabkan korosi lokal. Organisme di dalam
lapisan deposit mempunyai efek besar dalam kimia di lingkungan antara permukaan
logam/film atau logam/deposit tanpa melihat efek dari sifat bulk electrolyte.
Mikroorganisme
dikatagorikan berdasarkan kadar oksigen yaitu :
1. Jenis
anaerob, berkembang biak pada kondisi tidak adanya oksigen.
2. Jenis
Aerob, berkembang biak pada kondisi kaya oksigen.
3. Jenis
anaerob fakultatif, berkembang biak pada dua kondisi.
4.
Mikroaerofil, berkembang biak menggunakan sedikit oksigen.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Korosi
Korosi adalah kerusakan atau
degradasi
logam akibat reaksi
redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di
lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam
bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim
adalah perkaratan besi.
Pada peristiwa korosi, logam
mengalami
oksidasi, sedangkan oksigen (udara)
mengalami
reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa
oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat
yang berwarna coklat-merah.
Korosi dapat juga diartikan sebagai
serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara
kimia atau
elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi
lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses
ekstraksi logam dari bijih
mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam
besi di alam bebas ada dalam bentuk
senyawabesi oksida atau
besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi
yang digunakan untuk pembuatan
baja atau
baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan
lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Kecepatan korosi sangat tergantung
pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan
oksida dapat menghalangi beda
potensial terhadap
elektrodalainnya yang akan sangat berbeda bila
masih bersih dari oksida.
B. Proses
Terjadinya Korosi
Korosi atau pengkaratan merupakan
fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi
logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan
berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan
terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik,
yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam
(permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan
laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau
oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara
lembab, misalnya proses reaksinya dapat dinyatakan sebagai berikut :
Anode=
{Fe(s)→ Fe2+(aq)+ 2 e}x 2
Katode =O2(g)+
4H+(aq)+ 4 e → 2 H2O(l)

+
Redoks= 2
Fe(s) + O2 (g)+ 4 H+(aq)→ 2 Fe2++ 2 H2O(l)
Dari data potensial elektrode dapat
dihitung bahwaemf standar untuk proses korosi ini, ,yaituE0sel = +1,67 V ;
reaksi ini terjadi pada lingkungan asam dimana ion H+ sebagian dapat diperoleh
dari reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air membentuk H2CO3. Ion Fe+2 yang
terbentuk, di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh oksigen membentuk
besi (III) oksida :
4 Fe+2(aq)+
O2 (g) + (4 + 2x) H2O(l) → 2 Fe2O3x H2O + 8 H+(aq)
Hidrat besi
(III) oksida inilah yang dikenal sebagai karat besi. Sirkuit listrik dipacu
oleh migrasi elektron dan ion, itulah sebabnya korosi cepat terjadi dalam air
garam.
Jika proses
korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi katodik yang terjadi, yaitu :
O2 (g) + 2
H2O(l)+ 4e → 4 OH-(aq)
Oksidasi lanjut ion Fe2+ tidak
berlangsung karena lambatnya gerak ion ini sehingga sulit berhubungan dengan
oksigen udara luar, tambahan pula ion ini segera ditangkap oleh garam kompleks
hexasianoferat (II) membentuk senyawa kompleks stabil biru. Lingkungan basa
tersedia karena kompleks kalium heksasianoferat (III).
Korosi besi realatif cepat terjadi dan
berlangsung terus, sebab lapisan senyawa besi (III) oksida yang terjadi
bersifat porous sehingga mudah ditembus oleh udara maupun air. Tetapi meskipun
alumunium mempunyai potensial reduksi jauh lebih negatif ketimbang besi, namun
proses korosi lanjut menjadi terhambatkarena hasil oksidasi Al2O3, yang
melapisinya tidak bersifat porous sehingga melindungi logam yang dilapisi dari
kontak dengan udara luar.
C. Dampak
Dari Korosi
Karatan adalah istilah yang diberikan
masyarakat terhadap logam yang mengalami kerusakan berbentuk keropos. Sedangkan
bagian logam yang rusak dan berwarna hitam kecoklatan pada baja disebut Karat.
Secara teoritis karat adalah istilah yang diberikan terhadap satu jenis logam
saja yaitu baja, sedangkan secara umum istilah karat lebih tepat disebut
korosi. Korosi didefenisikan sebagai degradasi material (khususnya logam dan
paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan lingkungannya.
Korosi merupakan proses atau reaksi
elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh
karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya
bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses
perusakannya.
Dilihat dari aspek elektrokimia,
korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke
lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan
lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda). Reaksi yang terjadi pada
logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam
larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam
tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan
mendekati logam dan menangkap elektron- elektron yang tertinggal pada logam.
Dampak yang ditimbulkan korosi sungguh
luar biasa. Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat
mengalokasikan biaya pengendalian korosi sebesar 80 hingga 126 milyar dollar
per tahun. Di Indonesia, dua puluh tahun lalu saja biaya yang ditimbulkan akibat
korosi dalam bidang indusri mencapai 5 trilyun rupiah. Nilai tersebut memberi
gambaran kepada kita betapa besarnya dampak yang ditimbulkan korosi dan nilai
ini semakin meningkat setiap tahunnya karena belum terlaksananya pengendalian
korosi secara baik bidang indusri. Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa
kerugian langsung dan kerugian tidak langsung. Kerugian langsung adalah berupa
terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau stuktur bangunan.
Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktifitas produksi karena
terjadinya penggantian peralatan yang rusak akibat korosi, terjadinya
kehilangan produk akibat adanya kerusakan pada kontainer, tanki bahan bakar
atau jaringan pemipaan air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya produk korosi
pada alat penukar panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan efisiensi
perpindahan panasnya, dan lain sebagainya.
D. Bentuk-Bentuk
Korosi
Bentuk-bentuk korosi dapat berupa
korosi merata, korosi galvanik, korosi sumuran, korosi celah, korosi retak
tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique
cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen),
korosi intergranular, selective leaching, dan korosi erosi.
1.
Korosi
merata adalah korosi yang terjadi secara serentak diseluruh permukaan logam,
oleh karena itu pada logam yang mengalami korosi merata akan terjadi
pengurangan dimensi yang relatif besar per satuan waktu. Kerugian langsung
akibat korosi merata berupa kehilangan material konstruksi, keselamatan kerja
dan pencemaran lingkungan akibat produk korosi dalam bentuk senyawa yang
mencemarkan lingkungan. Sedangkan kerugian tidak langsung, antara lain berupa
penurunan kapasitas dan peningkatan biaya perawatan (preventive maintenance).
2.
Korosi
galvanik terjadi apabila dua logam yang tidak sama dihubungkan dan berada di
lingkungan korosif. Salah satu dari logam tersebut akan mengalami korosi,
sementara logam lainnya akan terlindung dari serangan korosi. Logam yang
mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial yang lebih rendah dan
logam yang tidak mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial lebih
tinggi.
3.
Korosi
sumuran adalah korosi lokal yang terjadi pada permukaan yang terbuka akibat
pecahnya lapisan pasif. Terjadinya korosi sumuran ini diawali dengan
pembentukan lapisan pasif dipermukaannya, pada antarmuka lapisan pasif dan
elektrolit terjadi penurunan pH, sehingga terjadi pelarutan lapisan pasif
secara perlahan-lahan dan menyebabkan lapisan pasif pecah sehingga terjadi
korosi sumuran. Korosi sumuran ini sangat berbahaya karena lokasi terjadinya
sangat kecil tetapi dalam, sehingga dapat menyebabkan peralatan atau struktur
patah mendadak.
4.
Korosi
celah adalah korosi lokal yang terjadi pada celah diantara dua komponen.
Mekanisme terjadinya korosi celah ini diawali dengan terjadi korosi merata
diluar dan didalam celah, sehingga terjadi oksidasi logam dan reduksi oksigen.
Pada suatu saat oksigen (O2) di dalam celah habis, sedangkan oksigen (O2)
diluar celah masih banyak, akibatnya permukaan logam yang berhubungan dengan
bagian luar menjadi katoda dan permukaan logam yang didalam celah menjadi anoda
sehingga terbentuk celah yang terkorosi.
5.
Korosi
retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosionfatique
cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion inducedhydrogen) adalah
bentuk korosi dimana material mengalami keretakan akibatpengaruh lingkungannya.
Korosi retak tegang terjadi pada paduan logam yang mengalami tegangan tarik
statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat sangat rentan terhadap
lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan amonia dan baja karbon
rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatk terjadi akibat tegangan berulang
dilingkungan korosif. Sedangkan korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena
berlangsungnya difusi hidrogen kedalam kisi paduan.
6.
Korosi
intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada paduan logam akibat
terjadinya reaksi antar unsur logam tersebut di batas butirnya. Seperti yang
terjadi pada baja tahan karat austenitik apabila diberi perlakuan panas. Pada
temperatur 425 – 815oC karbida krom (Cr23C6) akan mengendap di batas butir.
Dengan kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut akan
mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat tersebut.
7.
Selective
leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam karena pelarutan salah
satu unsur paduan yang lebih aktif, seperti yang biasa terjadi pada paduan
tembaga-seng. Mekanisme terjadinya korosi selective leaching diawali dengan
terjadi pelarutan total terhadap semua unsur. Salah satu unsur pemadu yang
potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang potensialnya
lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi keropos pada logam
paduan tersebut. Contoh lain selective leaching terjadi pada besi tuang kelabu
yang digunakan sebagai pipa pembakaran. Berkurangnya besi dalam paduan besi
tuang akan menyebabkan paduan tersebut menjadi porous dan lemah, sehingga dapat
menyebabkan terjadinya pecah pada pipa.
E. Bakteri
Penyebab Korosi
Fenomena korosi yang terjadi dapat disebabkan adanya
keberadaan dari bakteri. Jenis-jenis bakteri yang berkembang yaitu :
1. Bakteri
reduksi sulfat
Bakteri ini merupakan bakteri jenis
anaerob membutuhkan lingkungan bebas oksigen atau lingkungan reduksi, bakteri
ini bersirkulasi di dalam air aerasi termasuk larutan klorin dan oksidiser
lainnya, hingga mencapai kondisi ideal untuk mendukung metabolisme. Bakteri ini
tumbuh pada oksigen rendah. Bakteri ini tumbuh pada daerah-daerah kanal,
pelabuhan, daerah air tenang tergantung pada lingkungannya.
Bakteri ini mereduksi sulfat menjadi
sulfit, biasanya terlihat dari meningkatnya kadar H2S atau Besi sulfida.Tidak
adanya sulfat, beberapa turunan dapat berfungsi sebagai fermenter menggunakan
campuran organik seperti pyruvnate untuk memproduksi asetat, hidrogen dan CO2,
banyak bakteri jenis ini berisi enzim hidrogenase yang mengkonsumsi hidrogen.
2. Bakteri
oksidasi sulfur-sulfida
Bakteri jenis ini merupakan bakteri
aerob yang mendapatkan energi dari oksidasi sulfit atau sulfur. Bebarapa tipe
bakteri aerob dapat teroksidasi sulfur menjadi asam sulfurik dan nilai pH
menjadi 1. bakteriThiobaccilus umumnya ditemukan di deposit mineral dan
menyebabkan drainase tambang menjadi asam.
3. Bakteri
besi mangan oksida
Bakteri memperoleh energi dari osidasi
Fe2+ Fe3+ dimana deposit berhubungan dengan bakteri korosi. Bakteri ini hampir
selalu ditemukan di Tubercle (gundukan Hemispherikal berlainan ) di atas lubang
pit pada permukaan baja. Umumnya oksidaser besi ditemukan di lingkungan dengan
filamen yang panjang.
F. Masalah-masalah
di lapangan
Banyak sekali di dunia industri dan fasilitas umum
terjadi proses korosi disebabkan oleh fenomena biokorosi akibat adanya bakteri.
Kasus-kasus tersebut yaitu :
1. Pipa-pipa
bawah tanah di Industri minyak dan gas bumi
Dalam suatu contoh kasus dari
perusahaan Korea Gas Corporation (KOGAS) menggunakan pipa-pipa gas yang dilapis
denganpolyethy lene (APL 5L X-65). Selama instalasi, pipa dilas tiap 12 meter
dan diproteksi denganim pr es s ed current proteksi katodik dengan potensial
proteksi –850 mV (vs saturated Cu/CuSO4). Kemudian beberapa tahun dicek kondisi
lapis lindung maupun korosi aktif menggunakan pengujian potensial gardien5,
hasilnya berupa letak-letak coating defect di sepanjang pipa. Kegagalan
selanjutnya yaitu adanya disbonded coating area di permukaan pipa yang
disebabkan adanya arus proteksi katodik yang berlebihan terekspos. Coating
defect dan daerah disbonded coating sangat baik untuk perkembangan mikroba
anaerob. Pada disbonded coating area terjadi korosi local (pitting), lubang pit
berbentuk hemisspherikal dalam tiap-tiap kelompok.
2. Peralatan
sistem pemyemprot pemadam kebakaran.
Di kota Kalifornia Amerika serikat,
departemen pemadam kebakaran mengalami masalah cukup sulit dimana debit air
alat system penyemprot turun walau tekanan cukup besar, setelah diselidiki maka
di dalam alat penyemprot terjadi suatu korosi yang disebabkan oleh aktifitas
mikroba dipermukaan dinding bagian dalam yang terbuat dari baja karbon dan
tembaga saat beberapa bulan pembelian.
Hal ini disebabkan adanya biodeposit
(turbucle) yang tumbuh di di dinding bagian dalam, kemudian di dalam biodeposit
tersebut terjadi aktifitas degradasi lokal berupa korosi pitting sehingga mengurangi
tebal pipa dan aktifitas ini menghasilkan senyawa H2S di lubang pit yang
mengakibatkan keadaan asam dan mempercepat kelarutan logam.
G. Korosi
dan Cara Pencegahannya
Korosi atau perkaratan sangat lazim
terjadi pada besi. Besi merupakan logam yang mudah berkarat. Karat
besi merupakan zat yang dihasilkan pada peristiwa korosi, yaitu berupa zat
padat berwarna coklat kemerahan yang bersifat rapuh serta berpori. Rumus
kimia dari karat besi adalah Fe2O3.xH2O. Bila dibiarkan, lama kelamaan
besi akan habis menjadi karat.
Dampak dari peristiwa korosi bersifat
sangat merugikan. Contoh nyata adalah keroposnya jembatan, bodi mobil,
ataupun berbagai konstruksi dari besi lainnya.Siapa di antara kita tidak
kecewa bila bodi mobil kesayangannya tahu-tahu sudah keropos karena
korosi. Pasti tidak ada. Karena itu, sangat penting bila kita
sedikit tahu tentang apa korosi itu, sehingga bisa diambil langkah-langkah
antisipasi.
Peristiwa korosi sendiri merupakan
proses elektrokimia, yaitu proses (perubahan / reaksi kimia) yang melibatkan
adanya aliran listrik. Bagian tertentu dari besi berlaku sebagai kutub
negatif (elektroda negatif, anoda), sementara bagian yang lain sebagai kutub
positif (elektroda positif, katoda). Elektron mengalir dari anoda ke katoda,
sehingga terjadilah peristiwa korosi.
Ion besi (II)yang terbentuk pada anoda
selanjutnya teroksidasi menjadi ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa
oksida terhidrasi (karat besi), Fe2O3.xH2O.
Dari reaksi terlihat bahwa korosi
melibatkan adanya gas oksigen dan air. Karena itu, besi yang disimpan
dalam udara yang kering akan lebih awet bila dibandingkan ditempat yang
lembab. Korosi pada besi ternyata dipercepat oleh beberapa faktor,
seperti tingkat keasaman, kontak dengan elektrolit, kontak dengan pengotor,
kontak dengan logam lain yang kurang aktif (logam nikel, timah, tembaga), serta
keadaan logam besi itu sendiri (kerapatan atau kasar halusnya permukaan).
H. Pencegahan
korosi
Pencegahan
korosi didasarkan pada dua prinsip berikut :
1. Mencegah
kontak dengan oksigen dan/atau air
Korosi besi memerlukan oksigen dan
air. Bila salah satu tidak ada, maka peristiwa korosi tidak dapat
terjadi. Korosi dapat dicegah dengan melapisi besi dengan cat, oli, logam
lain yang tahan korosi (logam yang lebih aktif seperti seg dan krom).
Penggunaan logam lain yang kurang aktif (timah dan tembaga) sebagai pelapis
pada kaleng bertujuan agar kaleng cepat hancur di tanah. Timah atau tembaga
bersifat mampercepat proses korosi.
2. Perlindungan
katoda (pengorbanan anoda)
Besi yang dilapisi atau dihubugkan
dengan logam lain yang lebih aktif akan membentuk sel elektrokimia dengan besi
sebagai katoda. Di sini, besi berfungsi hanya sebagai tempat terjadinya
reduksi oksigen. Logam lain berperan sebagai anoda, dan mengalami reaksi
oksidasi. Dalam hal ini besi, sebagai katoda, terlindungi oleh logam lain
(sebagai anoda, dikorbankan). Besi akan aman terlindungi selama logam
pelindungnya masih ada / belum habis. Untuk perlindungan katoda pada
sistem jaringan pipa bawah tanah lazim digunakan logam magnesium, Mg.
Logam ini secara berkala harus dikontrol dan diganti.
3. Membuat
alloy atau paduan logam yang bersifat tahan karat, misalnya besi
dicampur dengan logam Ni dan Cr menjadi baja stainless (72% Fe, 19%Cr,
9%Ni).
BAB III
KESIMPULAN
1.
Korosi
merata dapat terjadi pada logam dan paduan logam karena reaksi oksidasi dan
reduksinya tersebar secara merata pada logam dengan laju korosi yang relatif
sama.
2.
Logam
yang terkorosi merata terjadi akibat seluruh permukaan logam kontak dengan
lingkungannya.
3.
Aktivitas
mikroba khususnya bakteri reduksi ,oksida sulfat dan mangan oksidasi
mengakibatkan degradasi fungsi peralatan yang memakai bahan dasar logam dengan
kondisi lingkungan kritis dan temperatur tertentu. Maka pencegahan dengan
pemilihan lingkungan kerja material yang tidak memberikan nutrisi dan
temperatur untuk berkembang dan perlindungan korosi berupa pengecatan dan
proteksi katodik.